Kamis, 26 April 2012

PEMBUKTIAN EKSISTENSI ALLAH Menurut ANSELMUS DARI CANTERBURY


PEMBUKTIAN EKSISTENSI ALLAH
Menurut
ANSELMUS DARI CANTERBURY
Pendahuluan
Santo Anselmus dari  Cantebury  adalah filsuf  dan teolog Kristen yang terkemuka pada abad ke sebelas. Ia adalah orang termasyhur yang memperkenalkan “ontological argument” untuk membuktikan adanya Allah. Argumen tersebut termuat pada bagian kedua Proslogion. Selain itu, ia juga menyumbangkan  pokok pikiran tentang filsafat  teologi (dan tentunya  lebih mengarah pada filsafat secara umum), yang tidak meninggalkan titik pangkal utama dari penjelasan secara ontologi.
Anselmus mengetengahkan 2 judul karya yang ia hasilkan untuk membuktikan adanya Allah yakni  Monologion dan Proslogion. Diantara kedua karya tersebut yang lebih menjadi sorotan dan perdebatan ialah Proslogion, bahkan sampai pada abad sekarang ini. Beberapa tokoh pemikir yang cukup tertarik dan mempermasalahkannya karya itu diantaranya ialah Bonaventura, Thomas Aquinas, Dun Scotus, Descartes, Leibniz, Immanuel Kant, Hegel, hingga beberapa filsuf analisis bahasa abad XX.
Riwayat Hidup
Anselmus dilahirkan di Aosta Piemont, Italia sekitar tahun 1033. Ia adalah putera seorang bangsawan comberdia yang ditandai dengan banyak gejolak dan pancaroba. Ayahnya bernama Gundulph dan ibunya bernama Ermenberga.[1] Ia menolak keinginan ayahnya untuk menjadi seorang politikus, dan lebih memilih menjadi pengembara menyeberangi penugunungan Alpens dan mengelilingi eropa.[2] Pada usia 26 tahun ia masuk biara di Bec, Normandia, Perancis yang dipimpin oleh Lanfranc.[3]
Anselmus dari cantebury, juga dikenal sebagai Anselmus dari Aosta dan Anselmus dari Bec atau Santo Anselmus, adalah pelajar pertama, yang kemudian menjadi seorang biarawan. Ia dipilih menjadi abbas pada usia 45 tahun.  Lima belas tahun kemudian Ia diangkat menjadi uskup agung Cantebury yaitu pada tahun 1093. Sejak itu kehidupan Anselmus terus diwarnai oleh pertentangan dengan raja William II dan Henri I mengenai hak Gereja dan negara. Anselmus menghendaki supaya uskup-uskup dipilih dengan bebas tanpa campur tangan negara. William II mengancam akan memecat uskup agung itu  sehingga Anselmus melarikan diri ke Roma selama tiga tahun. Di tempat pengasingan itulah Ia menulis sebuah buku terkenal yang berjudul “ Cur Deus Homo?” (Mengapa Allah Menjdi Manusia?).
Anselmus kembali ke Inggris ketika Henry I naik tahta. Tapi segera disusul oleh perselisihan lagi Henry I menuntut hak atas pengangkatan uskup dan abbas. Anselmus mengungsi ke Roma untuk yang kedua kalinya.[4] Anselmus terkategori orang yang memenuhi syarat sebagai seorang skolastikus.[5]
Iman Mencari Kebenaran
Menurut beberapa penulis bibliografy para filsuf, Anselmus mencoba untuk melanjutkan beberapa pokok pemikiran dari sang pendahulunya yakni Santo Agustinus. Anselmus adalah orang yang pertama mengemukakan Argument Ontologis mengenai  keberadaan Allah dan merupakan seorang tokoh yang sangat terkenal pada abad pertengahan. Anselmus juga seorang yang memiliki pendirian yang  kuat untuk melawan aliran anti-filsafat di jamannya. Karena Ia meyakini filsafat mampu memberikan  dasar-dasar yang terdalam mengenai hakikat manusia dan dunia.[6] Anselmus  menggunakan cara berpikir rasional untuk memahami iman Kristen, yang selalu dianggap sebuah aliran skeptisisme dan sering disangsikan kebenarannya. Anselmus mengutarakan pendapatnya dengan mengandalkan rasio.[7] Dengan cara berpikir rasional pemahaman iman yang essential merupakan suatu  kewajiban keberagamaan. Ia beranggapan bahwa:

“I do not  attempt, O Lord, to penetrate thy profundity, for  I deem my intelect in no way sufficienst there into, but I desire to understand in some degree they truth, which my heart believes and loves. For  I do not seek to understand, in order “That   I may believe but I believe, that I my understand. For I  believe this too, that unless I  believed, I should not understand[8]

Salah satu gagasan yang dikembangkan dan digunakan oleh Anselmus dalam berteologi dan berfilsafat ialah pemikiran dialektika. Anselmus percaya dengan cara ini pencarian akan suatu  pengertian dapat dicapai dengan baik. Pengembangan pemikiran ini tidak dimaksudkan hanya dengan akal (rasio) saja yang mampu atau bisa menghantar setiap orang untuk percaya dan yakin, akan tetapi untuk lebih berpikir kritis akan suatu kebenaran yang sungguh benar. Hubungan antara iman dan ilmu pengetahuan dirumuskan oleh Anselmus dengan: fides quaerens intellectum (iman berusaha untuk mengerti). Melalui iman setiap orang dihantar kepada suatu pengertian. Iman dijadikan sebagai dasar memahami segala sesuatu di atas rasio. Atau secara personal: credo ut intelligam (aku percaya untuk mengerti), ini dimaksudkan agar dengan iman setiap orang dibantu untuk bisa sampai pada suatu pengertian yang terdalam.
Pemikiran yang dikembangkan oleh Anselmus kurang lebih sama dengan pemikiran Agustinus dan Johanes Scotus Eriugena. Anselmus mengemukakan bahwa kebenaran yang diwahyukan harus dipercaya terlebih dahulu, karena akal manusia tidak mampu untuk menyatakan suatu kebenaran itu. Wahyu yang diturunkan merupakan suatu kebenaran yang mutlak. Dalam hal ini juga, Ia menyatakan bahwa Iman bersifat bebas dan tidak terikat, serta tidak memerlukan dasar-dasar akali. Meskipun setiap orang memiliki kepastian karena iman, akalnya dengan sendirinya akan didorong oleh iman untuk menyelami kebenaran-kebenaran iman lebih lanjut.
Iman harus menjadi dasar segala-galanya.  Dengan demikian, suatu kebenaran yang terkandung di dalam Kitab Suci, mampu dijelaskan secara rasional serta mendalam. Di percayai bahwa dari iman, orang naik sampai kepada pengetahuan, yaitu pengetahuan yang dilengkapi dengan pembuktian.  Namun, pada pandangan itu diharapkan kepastian iman tidak dimengerti akan semakin bertambah. Iman juga diharapkan menjadi lebih mendasar, utuh dan melekat pada diri manusia yang adalah ciptaan Allah. Perbedaannya ialah iman diberikan dengan perantaraan wahyu, sedangkan pengetahuan akali diberikan dengan perantaraan penerangan Ilahi. Iman telah memberi kepada Orang Kristen suatu pandangan yang mendalam atas dunia. Akan tetapi iman yang mendalam, yang disertai pengetahuan akali, memberi suatu pandangan yang lebih mendalam lagi atas segala sesuatu sebagai suatu keseluruhan, baik atas Allah, manusia maupun dunia.
Menurut Anselmus, pengertian-pengertian umum atau universalia bukan hanya sebutan saja, akan tetapi juga memiliki realitas. Universalia benar-benar nyata, bebas daripada segala yang individual, yaitu berada sebagai idea-idea di dalam Allah. Pemikiran mengenai akali, maupun pandangannya tentang universalia dikaitkan dengan pandangannya tentang bukti-bukti akan adanya Allah, yang mana, iman mendasari kepastian keberadaan “Allah” yang menuntut suatu pembuktian.
Pendirian Anselmus tentang hubungan antara rasio dan iman disingkatkannya dengan semboyan “Credo ut intelligam” (saya percaya supaya saya mengerti). Maksudnya ialah bahwa melalui kepercayaan kristiani orang dapat mencapai pengertian lebih mendalam tentang Allah, manusia dan dunia.
Pembuktian adanya Allah
Anselmus mencoba memberikan dua cara untuk membuktikan bahwa Allah memang ada. Pertama, ialah ketika ia melihat adanya hal-hal yang terbatas, yang  mengandaikan adanya hal-hal yang tidak terbatas. Dengan begitu ia hendak mengatakan bahwa, akal manusia hanya mampu untuk sampai kepada pemahaman yang biasa-biasa saja, tidak sepenuhnya mendalam dan sungguh-sungguh mendasar. ada banyak hal yang tidak mampu kita jelaskan begitu saja dengan pengetahuan yang kita miliki, karena itu ia mendasarkan adanya hal-hal yang tidak terbatas. Selain itu, Ia juga mengatakan adanya Yang baik secara relatif, dengan ini mengandaikan adanya sesuatu yang baik secara mutlak. Menurut dia, Seandainya tiada hal yang baik secara mutlak mustahil ada sesuatu yang baik secara relatif. Demikian juga halnya dengan yang besar secara relatif mengandaikan juga adanya hal-hal yang besar secara mutlak. Beradanya “yang ada” secara relatif mengandaikan beradanya “ yang ada secara mutlak, yakni Allah.
Cara yang kedua, yang digunakan oleh Anselmus untuk membuktikan adanya Allah ialah penguraian. Menurut Anselmus, apa yang kita sebut Allah memiliki suatu pengertian yang lebih besar dari segala sesuatu yang bisa kita pikirkan. Apabila kita berbicara tentang Allah, yang kita maksudkan ialah suatu pengertian yang lebih besar dari pada apa saja yang dapat kita pikirkan. Dengan begitu pengertian “Allah” yang ada di dalam rumusan pemikiran kita adalah lebih besar daripada apa saja yang ada di dalam pikiran. Apa yang di dalam pikiran ada sebagai yang tertinggi atau yang lebih besar, tentu juga berada di dalam kenyataan sebagai yang tertinggi dan yang terbesar.
Teori atau cara yang kedua yang dipaparkan oleh Anselmus diatas, tidak sepenuhnya bisa digunakan untuk semua tingkat pemikiran. Teori ini ingin mengutarakan bahwa Allah yang dipahami berbeda dengan pengertian-pengertian ataupun pemahaman yang lain. Tidak dipahami seperti suatu pemahaman yang semu, seperti pulau yang terindah yang dipikirkan orang atau dikhayalkan, belum tentu benar-benar ada dalam kenyataan. Hanya pengertian tentang Allah sebagai tokoh yang jauh lebih besar daripada segala sesuatu itulah yang menurut adanya realitas yang sesuai dengan pengertian itu.
Jalan pikiran Anselmus dalam bukti ini dirumuskan secara singkat adalah sebagai berikut:[9]
  1. Kita semua satu bahwa dengan nama “Allah” dimaksudkan hal yang tidak dapat dipikirkan lebih besar lagi (“id quo nihil maius  cogitari potest”). Dengan perkataan lain, dengan nama “Allah” kita maksudkan hal yang lebih besar dari hal lain yang dapat dipikirkan.
  2. Tidak mungkin hal yang tidak dapat dipikirkan lebih besar lagi, hanya berada dalam PEMIKIRAN saja, karena  hal yang ada dalam pemikiran saja bukanlah hal yang terbesar, sebab lebih besar lagi ialah berada dalam KENYATAAN. Supaya
  3. Pada suatu kesimpulan bahwa Allah tidak hanya berada dalam pemikiran manusia, tetapi juga dalam kenyataan. Jadi, Allah sungguh ADA.
Refleksi
Kerap kali keberadaan Allah sebagai pencipta  dimengerti, dan hanya dapat dipahami melalui IMAN dan WAHYU Ilahi yang ada di dalam KITAB SUCI. Tidak mengherankan, banyak orang bergelut di dalam ilmu pengetahuan untuk membuktikan siapa itu Allah.  Tidak jarang pula umat beragama menafikan peran rasio (akal budi) manusia, seolah-olah akal budi tidak berdaya untuk membuktikan adanya Allah.
Anselmus adalah salah seorang “terpelajar”, seorang Kristen yang mencoba memasukkan logika dalam pelayanan iman. Kendatipun, ia mengerti tentang alkitab, namun ia hendak menguji kekuatan logika manusia dalam upayanya membuktikan doktrinnya. Ia selalu mendasarkan iman dalam segala sesuatu. Argumentasi ontologisnya (informasi yang dapat mengarah ke penemuan sesuatu yang penting) mengajak kita untuk   percaya kepada Allah. Singkatnya, ia menyatakan bahwa rasio manusia membutuhkan ide mengenai suatu zat yang sempurna yaitu “Allah”. Oleh  sebab itu,  zat tersebut harus ada.
Santo Anselmus juga mau mengajarkan kepada kita agar ilmu pengetahuan yang kita peroleh henndaknya menjadikan kita lebih bijaksana. Dengan “berilmu” kita diingatkan untuk selalu rendah hati dan takwa. Ilmu pengetahuan dimaksudkan untuk mampu menjelaskan iman kita kepada Allah sebagai pencipta alam semesta dan manusia. 
Bibliografi
Bertens, K., Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyajarta: Kanisius, 1998. 
Copleston, P., A History of Philosophy Vol. 2, New York, Garden City: Image Books, 1962.
Edwards, Paul ed in chip., The Encyclopedia of Philosophy Vol. I+II , New York: Mac Millan publishing Co., Inc. and The Free Press…, 1972.
H. Anderson, Gerald., Biographical Dictionary of Christian Mission, New York: WMB Eerdmans Pubilshing Co., 1999.
Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah FilsafatBarat 1, Yogyakarta: Kanisius, 1990. 
M. J., Charlesworth, (trans) (ed)., St. Anselm’s Proslogion, Notre Dame, University of Notre Dame Press, tahun  2003.
Sudiarja, A., Subanar, G. Budi., Sunadi, St., Sarkini, T., Karya lengkap Driyarkara, Jakarta: Gramedia Pustaka Umum, 2006.
Willem, F.D., Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987.


[1] F. D. Willem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987), hlm. 7.
[2] Charlesworth, M. J., trans. and ed. St. Anselm’s Proslogion, (Notre Dame, University of Notre Dame Press,  2003), hlm. 9.
[3] Gerald H. Anderson, Biographical Dictionary of Christian Mission, (New York: WMB Eerdmans Pubilshing Co., 1999),  hlm. 23.

[4] Gerald H. Anderson, Biographical Dictionary of Christian Mission, (WMB Eerdmans Pubilshing Co., New York, 1999), hlm. 23.

[5]  Dr. Harun Hadiwijono, Sari sejarah  Filsafat Barat 1, (Yogyakarta : Kanisius, 1990), hlm 94
[6] Charlesworth, M. J., trans. and ed. St. Anselm’s Proslogion, (Notre Dame, University of Notre Dame Press,  2003), hlm. 9.
[7] Paul Edwards, ed in chip, The Encyclopedia of Philosophy Vol. I+II (New York: Mac Millan publishing Co., Inc. and The Free Press…, 1972), hlm. 128-129.
[8] P. Copleston, A History of Philosophy Vol. 2, (New York, Garden City: Image Books, 1962), hlm. 177.

[9]  K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, (Yogyajarta: Kanisius, 1998), hlm. 26-27

1 komentar:

  1. Dengan semangat, ANDA pasti bisa. Bersemangatlah dengan hati, agar semangat anda tetap dijalan kebenaran.

    BalasHapus