Selasa, 01 Mei 2012

ASAL–MUASAL PADI MENURUT PERSPEKTIF MASYARAKAT LIO-ENDE


ASAL–MUASAL PADI
MENURUT PERSPEKTIF MASYARAKAT LIO-ENDE

I. Pengantar
Ada dua tokoh yang menjadi titik tolak kehadiran mitos ini yakni: Bobi dan Nombi (Dewi Padi). Mitos ini merupakan salah satu karya sastra suci dalam khazanah sastra Lio, khususnya yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam jiwa dan semangat peladang Lio-Ende. Bagi komunitas peladang Lio-Ende, pelbagai ritual dalam lingkaran hidup perladangan tradisional bersandar dan bersumber pada kandungan makna pesan, amanat suci, dan ideologi di balik  mitos tersebut. Betapa dalamnya makna ideologi yang terkandung di balik mitos itu pula, nama sang "penjelma" dan "tumbal" padi asli itu. Kesadaran akan kekayaan nilai dan kepatuhan melaksanakan amanat ideologi yang terkandung di balik mitos itu harus diakui masih dimiliki oleh sejumlah kecil generasi peladang tua, sedangkan generasi muda Lio-Ende dewasa ini sudah kurang menyadarinya lagi. Komunitas peladang Ende-Lio meyakini bahwa tanaman padi tersebut  adalah “penjelmaan” tubuh manusia. Kedua nama tersebut diatas mengorbankan diri mereka kemudian berubah  menjadi tanaman padi. Mitos ini juga yang mentradisikan dan melandasi pelaksanaan ritual. Pada umumnya masyarakat telah menghidupinya nilai mitos itu dan bahkan sudah mendarahdaging dalam diri peladang etnis Lio-ende.

II.  Mitos asal-muasal Padi[1]
Ada dua bersaudara bernama Bobi dan Nombi. Keduanya yatim-piatu dan tunawisma. Untuk menyambung hidup keduanya mengemis ke sana ke mari. Ndoi, janda yang tinggal di Monikuru beriba hati lalu merawat kedua anak itu. Kedua anak laki dan perempuan itu dipelihara dan dimanjakan oleh Ndoi bagaikan anak kandungnya sendiri. Tibalah musim kemarau yang amat panjang. Oleh karena lamanya musim kemarau itu, banyak orang terancam kelaparan. Kemarau yang luar biasa itu dipertanyakan oleh masyarakat kepada Mosalaki sebagai ketua adat. Kemudian disimpulkan pula oleh masyarakat bahwa kemarau panjang yang mengancam itu akibat adanya kesalahan dan dosa warga masyarakat pula. Dosa perzinahan menjadi tumpuan kesalahan paling krusial yang berakibatkan kelaparan sebagian besar masyarakat karena kekeringan yang berkepanjangan itu. Setelah diusut - usut, masyarakat menduga bahwa Bobi dan Nombi-lah yang karena hidup secara liar itu telah melakukan perbuatan mesum (incest), padahal keduanya merupakan saudara sekandung. Pembelaan janda Ndoi pun tak membuahkan hasil meyakinkan masyarakat untuk melindungi Bobi dan Nombi.
Atas perintah Mosalaki (tuan tanah), Bobi dan Nombi segera ditangkap. Namun entah kenapa kedua anak itu tiba-tiba saja menghilang bak ditelan bumi. Masyarakat pun terus mencari kedua anak itu ke berbagai penjuru kampung. Beberapa hari kemudian, masyarakat menemukan kedua anak itu dibawah lereng Gunung Kelinida dan mengejar kedua anak itu secara bersama-sama sambil menghunuskan senjata tajam seperti, parang, panah dan lain sebagainya. Beberapa saat setelah pengejaran, kedua anak itu pun ditangkap dalam keadaan bersimba darah akibat terkena senjata tajam. Lalu masyarakat membawa kedua anak itu  menuju ke puncak Gunung Kelinida, sebuah gunung yang terkesan angker dan jarang didatangi orang. Bobi ditempatkan di bagian timur sedangkan Nombi ditempatkan di sisi barat. Perjaka dan dara yatim piatu itu dibunuh dan dicincang sebagai silih dan tebusan atas dosa dan kenistaan mereka dengan harapan hujan segera turun membasahi bumi yang sedang gersang itu. Namun, setelah lama mengorbankan kedua anak yatim piatu itu, hujan tak kunjung datang jua. Bahkan kemarau semakin garang saja. Mosalaki (Tuan Tanah) beserta seluruh warga kampung semakin gelisah. Mereka semua kwatir, jangan sampai Bobi dan Nombi yang tidak berdosa itu hidup kembali.
Pada suatu hari Mosalaki memanggil seluruh warga untuk bermusyawarah lagi. Mereka bersepakat untuk melihat kembali jenazah Bobi dan Nombi yang dicincang di puncak Gunung Kelinida. Sebab, mereka semakin bingung saja karena hujan pun tak kunjung datang. Berangkatlah orang-orang sekampung ke puncak Gunung Kelinida. Setibanya di puncak Gunung Kelinida yang datar itu, tampaklah hamparan tanaman serupa ilalang yang berbuah lebat dan menguning matang. Tanaman itu tepat di lokasi pembunuhan Bobi dan Nombi. Tanaman sejenis itu belum pernah mereka lihat. Akhirnya, mereka sepakat untuk membawa pulang dan merahasiakan "bulir-bulir rumput ilalang" itu. Setelah dikupas oleh Ndale dan Sera, tampaklah biji-bijian yang berwarna putih dan merah yang diasosiasikan oleh mereka penjelmaan daging dan darah Bobi dan Nombi.
Walaupun demikian, ketika mereka tiba di kampung, tidak seorang pun yang berani menyantapnya. Setelah bermusyawarah kembali bersama Mosalaki, mereka sepakat agar "makanan" baru yang sudah dikupas itu diuji coba makan oleh janda saja. Dasar perhitungannya, jikalau si janda itu nanti mati keracunan "makanan" baru itu, niscaya kecil resiko dan tidak ada orang yang menuntutnya. Janda Pare pun dipanggil. Pada mulanya Pare enggan dan menolak makan karena ia juga takut mati. Namun, karena ia diancam oleh Mosalaki dan warga kampung itu, pada akhirnya Pare pasrah dan rela makan dengan syarat, biji-bijian itu harus dikupas dalam jumlah banyak. Dengan demikian, seandainya ia harus mati, ia telah cukup puas menyantapnya. Dengan perasaan yang sangat cemas, percobaan menyantap biji-bijian yang dilakukan oleh Pare disaksikan oleh semua orang. Usai mencicipi segenggam, dua genggam, tiga, bahkan sampai beberapa genggam, wajah Pare justru berseri-seri. Percobaan selanjutnya diikuti oleh Wole, juga janda sebatang kara yang memang meminta dan menikmati biji-bijian baru itu. Menyaksikan Pare dan Wole makan dengan penuh gembira, orang-orang sekampung itu berminat keras untuk turut menikmati makanan baru itu. Jadilah biji-bijian yang baru itu "menjelma" menjadi makanan utama bagi seluruh masyarakat kampung itu. Kemudian, disusul pula dengan amanat agar tanaman itu ditanam melalui ritual atau upacara khusus sebagai penghormatan dan rasa syukur serta harus diwariskan kepada anak cucu.
Masyarakat di sekitarnya yaitu mereka yang ada di daerah Lise, Mbuli, dan Tenda pun akhirnya mendengar berita yang menggemparkan itu. Mereka segera mencari dan menjejaki asal-muasal makanan baru yang lezat itu. Setelah ditemukan, biji-bijian itu pun dibawa pulang dan diamanatkan juga kepada anak cucu mereka agar cara menanamnya harus dicampuri dengan batu hitam dan emas. Selain itu, pada masa panen usai, makanan itu harus dirayakan secara adat pula. Dalam pesta panen itu, darah ayam dikorbankan untuk mengenang Bobi dan Nombi. Sebelum pesta syukur panen itu, hendaknya diawali dengan remba ngenda[2]. Dari berbagai versi sejarah yang masih samar juga menyebutkan secara rinci bahwa; Darah yang berasal dari Bobi dan Nombi menjelma menjadi Beras merah (Pu'u Pare) yang mewakili setiap ritual adat Lio, sedangkan tulang belulangnya menjelma menjadi Ubi kayu dan ubi jalar atau umbi-umbian (uwi kaju dan ndora, rose dan lain-lain), giginya menjelma menjadi jagung (jawa), rambutnya menjelma menjadi jagung solor (lolo wete) serta jantungnya menjelma menjadi pisang (muku) dan lain sebagainya. Gunung Kelinida yang menjadi saksi sejarah itu juga sering disebut kelindota karena di gunung (keli) ini telah terjadi pembunuhan terhadap kedua anak manusia dengan cara dicincang (Ndota) menjadi onggokan daging sehingga menjelma menjadi makanan pokok masyarakat Lio-Ende.

III. Pandangan Masyarakat
         Masyarakat Lio-Ende memandang bahwa mitos ini sangat penting. Mitos ini sungguh lahir dan bersumber dari kedalaman cita rasa masyarakat Lio-Ende. Mitos ini juga merupakan  sebuah khazanah  yang menjiwai dan menyemangati masyarakat Lio-Ende, terkhusus bagi para peladang. Kehadiran mitos ini mampu membangkitkan  semangat para generasi penerus agar menghargai hasil karya nenek moyang yang telah dihidupi oleh masyarakat peladang tersebut. Masyarakat Lio-Ende menyadari bahwa dengan kehadiran mitos ini menuntut mereka semua untuk menghargai dan menghormati padi yang menjadi makanan pokok.
         Masyarakat peladang Lio- Ende menghidupi nilai yang tersurat dalam mitos ini. Semangat itu masih ada hingga saat ini. Hal tersebut nampak dalam keterlibatan masyarakat dalam melaksanakan upacara-upacara/ ritual–ritual yang menyangkut bercocok tanam. Etnik Lio-Ende mempunyai tempat ritual tersendiri yang telah ditentukan sebagai tempat seremoni oleh nenek moyang. Melalui ritual itulah, mereka (Masyarakat Lio-Ende) menjalin dan memulihkan kembali harmoni hubungan kekerabatan, kebersamaan dan solidaritas antar mereka, serta dengan kekuatan adikodrati (supranatural tanawatu).Dalam acara ritual yang menyangkut dengan bercocok tanam biasanya diawali penyiraman darah ayam atau hewan korban lainnya yang layak. Selain amanat tentang upacara dan peralatan upacara penanaman padi, batu kesuburan dan emas untuk "dicampurkan" dalam benih padi, yang diwadahi dengan benga,[3] ada pula amanat lain sebagaimana tertera dalam teks di atas. Amanat yang dimaksudkan itu adalah bahwa bagi semua pewaris dan keturunan antar generasi hendaklah saat melaksanakan tahapan upacara itu: mulai tahapan penanaman, tahapan pemeliharaan atau panen perdana, dan tahapan pemanenan akhir. Secara tegas diperintahkan agar upacara itu dilakukan secara teratur setiap tahun sesuai dengan tata cara atau prosedur tetap dan baku (ritual) untuk mengenang dan menghormati Bobi dan Nombi atas jasa-jasa dan terutama pengorbanan mereka yang rela dan ikhlas, kendati difitnah, dibunuh dan dicincang, hancur, dan "menjelma" serta bertumbuh menjadi tanaman padi; tanaman yang kemudian dapat dibudidayakan, dikembangbiakkan, dan terutama menjadi makanan pokok bergizi tinggi yang paling lezat di antara makanan lainnya. Lebih daripada itu, makanan itu pula yang memiliki fungsi dan nilai sosial-budaya tertinggi bagi komunitas peladang Lio-Ende.
          Bagi masyarakat Lio-Ende, budidaya padi inilah yang tergolong paling tua dari berbagai tanaman yang lainnya. Bagi saya, hal ini nampak dari rumitnya ritual padi sebagai tanda penghormatan dan penghargaan pada jenis tanaman lain. padi (beras) ini merupakan makanan pokok urutan teratas. Dalam masyarakat Lio-Ende, betapa tingginya makna dari beras/ padi tersebut. Padi ini biasanya ditumbuk tangan (manual), bukan penyosohan, dan berasal dari padi ladang asli, itulah yang paling layak disuguhkan saat ritual pati ka (upacara pemberian santapan khusus bagi leluhur ketika ada pesta adat). Hal yang sama dalam kehidupan sosial, juga hanya nasi pula yang layak disajikan kepada tamu agung.
              
IV. Komentar
          Penulis sangat bangga dengan mitos ini karena sungguh lahir dari pengalaman hidup masyarakat Lio-Ende. Mitos tersebut diwariskan secara turun temurun. Mitos ini bukan saja sebagai isapan jempol belaka tetapi mempunyai makna dan nilai-nilai penting yang yang tersurat maupun tersirat yang harus dihidupi oleh masyarakat. Memang, cerita ini hanya sekedar mitos dan sangat mustahil terjadi pada masyarakat tertentu. Tetapi itulah mitos yang terjadi dan masyarakat telah mempercayai hal itu. Nilai mitos tersebut sudah mendarahdaging dalam diri para peladang Lio-Ende. Oleh karena itu, berbagai upacara yang menyangkut mitos ini harus dilaksanakan oleh masyarakat Lio-Ende. Sebagai masyarakat yang berbudaya hendaknya mencintai mitos ini sebagai penghargaan atas hasil karya para leluhur. Saya, sebagai putra yang dilahirkan dan dibesarkan dalam budaya masyarakat Lio-Ende dan sudah menghidupi nilai–nilai dan mitos tersebut, seharusnya saya mampu memaknai dan melestarikan makan mitos tersebut. Tujuan mitos ini adalah mengajak masyarakat untuk senantiasa menghargai dan menghormati semua hasil ciptaan Tuhan, seperti padi.

V. Nilai-Nilai Yang Terkandung
v Nilai pengorbanan diri bagi sesama
          Mitos ini mempunyai makna bahwa sesuatu yang memiliki nilai tinggi, misalnya nasi, beras, dalam komposisi dan pola makanan suatu komunitas etnik tertentu, atau yang secara sosio-fungsional mengandung makna dan nilai tertentu, menjadi simbol dan reprentasi nilai dasar berkorban dan pengorbanan bagi sesama. Dalam konteks ini, pengorbanan yang dimaksudkan adalah pengorbanan sepasang manusia ( Bobi dan Nombi) yang rela dibunuh dan dicincang atas dasar fitnahan melakukan perbuatan mesum kendati belum dapat dibuktikan oleh hukum dan peradilan adat. Pengorbanan jiwa-raga mereka dalam konteks mitos ini, yang melalui penjelmaan mistis, jelas dimaknai sebagai pengorbanan diri demi kehidupan orang banyak yang kelaparan karena kemarau panjang.
v Nilai cinta kasih
          Nilai ini memang sangat ditekan oleh ajaran agama Kristen yang merupakan hukum yang universal. Setiap pribadi hendaknya memiliki nilai ini dalam diri dan nilai tersebut dihidupi dan direalisasikan  dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam  mitos ini saya melihat ada nilai yang terkandung didalam yakni cinta kasih, walaupun tidak tersurat. Nilai ini tampak pada pemberian diri mereka. Karena cinta kasih mereka kepada warga kampung tersebut yang akan kematian kelaparan, mereka pun rela menjadi korban, rela memberikan diri mereka bagi sesama yang kemudian menjadi makanan pokok masyarakat Lio-Ende dan sekitarnya.
  VI. penutup  
Masyarakat Lio-Ende merupakan  masyarakat ritual yang memiliki begitu banyak tradisi ritual dalam berbagai fase kehidupan manusia. Sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan hidup masyarakat Lio-Ende yang umumnya merupakan petani subsisten ladang kering. Dalam setiap rangkaian upacara pertanian sesuai dengan saat-saat kritis pertumbuhan tanaman, yakni: tahap menebas hutan, tahap membakar hutan, tahap menanam, tahap pertumbuhan padi, tahap panen perdana, dan tahap panen akhir, mereka selalu  melaksanakan upacara. Dengan berbagai tahapan memiliki ritus tersendiri yang memiliki fungsi dan berkaitan erat tujuan tertentu.
Dalam masyarakat tradisional, perilaku-perilaku  ritual umumnya dapat dijelaskan dengan istilah-istilah mitis. Mitos memberikan pembenaran untuk berbagai upacara. Sekalipun              ada kemungkinan  bahwa banyak ritual pada masa silam berlaku tanpa mitos-mitos, akan tetapi        pada tingkat perilaku manusia dapat diamati dua fenomena: ritus dan mitos. Hal ini berjalan    seiring. 
 Mitos  padi ini menurut etnik Lio-Ende memang bersifat sakral  sehingga masyarakat        sangat menghormatinya. Karakteristik mitos terletak pada kenyataan bahwa mitos ini mengacu    kepada kejadiaan pengorbanan itu. Di mana manusia menyadari dan menjelaskan esensi mutlak         dari keberadaannya dan sekaligus memberikan kesatuan makna bagi masa kini, masa lampau,   dan masa yang akan datang.  Maka mitos padi ini sesungguhnya merupakan pernyataan atas     suatu kebenaran yang lebih tinggi dan lebih penting tentang realitas asali, yang masih         dimengerti sebagai pola dan fondasi dari kehidupan primitif.











                                                            BIBLIOGRAFI

Orinbao Sareng, Tata berladang Tradisional dan pertanian Rasional Suku-Bangsa Lio, Nita-Flores: Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, 1992.



[1] Sareng  Orinbao, Tata berladang Tradisional dan pertanian Rasional Suku-Bangsa Lio ( Nita-Flores: Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, 1992),hlm.100.
[2] Remba ngenda artinya sebuah  ritus adat di ladang yang dipimpin oleh kepala suku.
[3] Benga artinya tempat yang dibentuk dari papan atau batu padas

Sabtu, 28 April 2012

Emalera wulan ina tana eka


EKSISTENSI ALLAH MENURUT MASYARAKAT LAMAHOLOT
(LERA WULAN- TANA EKAN)

I. PENDAHULUAN

Pengalaman beragama setiap daerah berbeda karena latar budaya yang beraneka ragam itu mempunyai cara pengungkapan yang berbeda-beda tentang wujud tertinggi atau yang Ilahi. Cara serta simbol yang dipakai memang berbeda-beda, namun esensi dari pengungkapan itu ialah bahwa “yang Ilahi” itu adalah kudus, suci dan sakral[1]. Ketiga kata inilah yang paling mendekati ciri khas pengalaman beragama.
Sebutan atau nama yang dikatakan pada sesuatu itu sungguhlah bermakna. Demikian pun masyarakat Flores Timur yang menyatu dalam satu rumpun budaya Lamaholot[2] mengenali Allah sehingga sampai pada pemahaman mereka akan adanya Allah dengan sebutan ”Lera Wulan Tana Ekan ”.
Ungkapan ini sungguh mendarah daging dalam diri setiap warga Lamaholot, yang diakui sebagai ”Yang Kudus, Suci dan Sakral”. Dengan ungkapan ini, pemahaman mereka tentang Allah itu penuh rahasia dan tidak terbatas kesempurnaannya. Namun yang ”Ilahi” itu mereka alami di dalam dan melalui pengalaman tentang dunia yang mereka kenal. Yang Ilahi dapat kita alami melalui hal-hal alamiah atau duniawi namun sifatnya tidaklah duniawi. Ini terbukti dari sifat hormat dan sembah sujud terhadapNya.
Berdasarkan kenyataan inilah kami mencoba menggambarkan dan menganalisa secara kritis mengenai EKSISTENSI ALLAH BAGI MASYARAKAT LAMAHOLOT dalam ungkapan “LERA WULAN TANA EKAN”.
Kami pun menyadari tulisan kami ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu dengan hati yang terbuka, kami menerima kritik dan saran yang membangun dari para pembaca yang budiman.

 II. SEKILAS LETAK GEOGRAFIS KABUPATEN FLORES TIMUR
            Kabupaten Flores Timur terbentuk bersamaan dengan terbentuknya propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang adalah hasil pemekaran dari Sunda Kecil, sekitar 50 tahun yang lalu. Seperti yang digambarkan oleh namanya, kabupaten ini terletak di ujung timur Pulau Flores. Awalnya, kabupaten ini terdiri dari daratan Pulau Flores bagian timur, Pulau Adonara, Pulau Solor, dan Pulau Lembata. Beberapa tahun yang lalu, Lembata menjadi Kabupaten sendiri. Walaupun demikian, kesatuan keempat daratan ini masih terasa sampai saat ini.
Ibu Kota kabupaten Flores Timur adalah Larantuka, sebuah kota pelabuhan kecil sejak abad XV yang terletak pada 8,4 derajat lintang selatan dan 123 derajat bujur timur. Sisi selatan kota ini langsung turun ke laut, sedangkan utara langsung mendaki Gunung Mandiri. Masyarakat yang mendiami kabupaten ini adalah masyarakat Lamaholot hampir di semua desa dan kampung di kabupaten ini. Sedangkan Larantuka, kota kabupaten, sebagian besar didiami oleh masyarakat Melayu. Selain di kota Larantuka, masyarakat terakhir (Melayu) ini berdiam pula di Desa Wureh dan Desa Konga.

III. LERA WULAN TANA EKAN
Sebelum mengenal agama-agama besar seperti; Agama Islam, Kristen, Hindu dan Budha, orang Lamaholot sudah mengenal Tuhan. Agama suku dan agama asli mengakui adanya Tuhan yang diyakini secara turun-temurun sejak zaman purba dan masih diakui sampai sekarang. Orang Lamaholot meyakini bahwa keberadaan manusia serta alam semesta merupakan hasil ciptaan dari suatu kekuatan Mahabesar dan Mahadahsyat yang berada di luar dirinya.[3] Orang lamaholot menyebut kekuatan itu dengan nama Lera Wulan Tana Ekan.
            Kepercayaan masyarakat Lamaholot mengenai ungkapan Lera Wulan Tana Ekan ini berkaitan erat dengan pengalaman hidup mereka yang selalu berhubungan langsung dengan alam, maka untuk mengetahuinya secara lebih mendalam, ungkapan tersebut dijelaskan dalam empat kelompok besar, yakni apa itu Lera Wulan?Apa itu Tanah Ekan? Apa hubungan antara Lera Wulan dan Tana Ekan? Serta apa sifat-sifat dari Lera Wulan Tana Ekan itu sendiri.

 3.1 Lera Wulan
            Secara harafiah Lera Wulan terdiri dari dua kata yakni; Lera yang berarti Matahari, dan Wulan yang berarti Bulan. Penamaan ini mempunyai pemahaman bahwa Sang Ilahi itu adalah “Yang Maha Tinggi”. Ia berada di atas segala ciptaanNya, pemberi terang dan kehidupan yang tak terbatas. Hidup manusia ada dalam lindungan dan penyelenggaraan-Nya. Dasarnya matahari dan bulan adalah yang menyinari bumi dan memberi kehidupan pada manusia dan segala tumbuhan yang menjadi sumber makanan manusia.[4]
            Matahari dan Bulan juga menjadi patokan perhitungan waktu setiap hari, karena masyarakat Lamaholot waktu itu belum mengenal alat pengukur waktu seperti jam. Bagi mereka bulan merupakan sarana perhitungan musim yang tepat untuk menghitung waktu bagi penanaman tumbuhan, perhitungan hari baik dan tidak, perhitungan pasang-surut air laut untuk pergi mencari ikan serta perhitungan untuk mengadakan ritus-ritus untuk menghormati Lera Wulan-Tana Ekan atau “wujud tertinggi”. Tanpa matahari dan bulan kehidupan tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini tampak dalam ungkapan “ Lera Wulan nein morit kame” (matahari dan bulan memberikan kehidupan kepada kami).[5]
Lera Wulan adalah benda langit (matahari dan bulan) yang berada jauh di tempat tinggi, dan tidak dapat dijangkau oleh indera manusia. Sesungguhnya, hal ini mengandung makna bahwa Tuhan itu berada di tempat yang tinggi, tidak dapat dijangkau oleh akal manusia dan mesti diberi tempat tertinggi di atas segala sesuatu yang lain. Dalam percakapan sehari-hari, bila orang menyebut Lera Wulan, orang selalu menunjukkan jarinya ke atas langit. Penunjukan jari ini melambangkan bahwa Tuhan itu berada di atas atau berada di tempat yang tinggi.
Lera Wulan juga merupakan sumber terang dan ia adalah terang itu sendiri. Ia menerangi bumi dan alam semesta. Tanpa terang yang dipancarkan oleh matahari pada siang hari dan bulan pada malam hari, kehidupan di bumi tak dapat berjalan dengan baik. Dalam konteks ini, dapatlah dikatakan bahwa Tuhan itu adalah sumber kehidupan.[6] Dari langit, turunlah berkat bagi kehidupan di dunia. Berkat itu hadir dalam bentuk hujan, angin, embun, pergantian musim, dan lain sebagainya. Kedudukan Tuhan yang tinggi ini, mengandung makna bahwa Tuhan adalah pemberi hidup sekaligus menjadi penyelenggara kehidupan di bumi. Dialah penguasa langit dan bumi, penguasa alam semesta.

 3.2 Tana Ekan
            Secara harafiah Tana Ekan terdiri dari dua kata yakni Tana berarti “tanah” dan Ekan berarti “lahan”. Jadi Tana Ekan berarti bumi atau jagat raya. Bumi adalah tempat di mana manusia berpijak dan melangsungkan hidupnya. Tanah adalah bagian kehidupan mereka yang tak dapat dipisahkan. Boleh dikatakan tanpa bumi atau Tana Ekan manusia takkan pernah ada. Manusia hanya ada kalau ada bumi, karena bumi adalah tempat di mana manusia berpijak.[7]
            Menurut pemahaman masyarakat Lamaholot, Tana Ekan juga memberikan perlindungan kepada mereka karena jika bumi itu marah maka semua yang ada akan mati, misalnya; jika terjadi gempa atau bencana alam lainnya. Karena itu mereka selalu mengadakan ritus-ritus untuk menjaga dan menghormati Tana Ekan. Pemahaman akan perlindungan Tana Ekan ini terdapat dalam ungkapan “Tana Ekan liko lapak kame” (Tana Ekan memberikan perlindungan kepada kami).[8]
Tana Ekan adalah tempat hidup semua makhluk ciptaan manusia yang berada dekat dan bersama manusia. Simbolisasi ini mengandung makna bahwa selain berada di tempat yang tinggi dan jauh dari manusia, tapi Dia juga dekat. Dia tak terjangkau oleh indera manusia tetapi menjangkaui manusia sebab keberadaan-Nya dekat dan bersama manusia. Tana Ekan menerima berkat yang turun dari langit. Dia juga menyediakan segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kesejahteraan manusia.[9]

 3.3 Hubungan antara Lera Wulan dan Tana Ekan (Lera Wulan-Tana Ekan)
            Ungkapan Lera Wulan dan Tana Ekan ini tak dapat dipisahkan atau tak dapat berdiri sendiri. Keduanya menjadi satu kesatuan yang utuh. Dalam pemahaman inilah maka simbol atau cara membahasakan Wujud Tertinggi tidak hanya disebut Lera Wulan atau Tana Ekan sendiri atau secara terpisah-pisah, tetapi keduanya harus disatukan agar memiliki makna yang utuh mengenai Wujud Tertinggi itu. Ungkapan Lera Wulan Tana Ekan ini tersirat juga makna imanensi dan transeden sang Ilahi. Bagi masyarakat Lamoholot Allah selain jauh (transenden) dan Mahadahsyat tetapi juga dekat dan akrab dengan manusia (imanen).[10]
            Transenden itu terdapat dalam ungkapan nama Lera Wulan sebagai matahari dan bulan yang ada jauh di atas bumi yang dimengerti bahwa matahari dan bulan tak henti-hentinya memberikan sinarnya kepada manusia. Mereka (matahari dan bulan) tak pernah berhenti memberikan kehidupan bagi manusia meskipun berada di tempat yang jauh. Hal ini dapat disimak dalam ungkapan ”Allah teti kowa lolon, niku kame maan sare-sare (Allah yang berdiam di atas awan, semoga melihat kami dengan baik-baik). Ketransendenan Allah ini juga menunjukkan kemahadahsyatan Allah yang tak terhampiri, tapi dapat dialami dan dirasakan. Kedahsyatan Allah itu terdapat pada matahari yang dapat memberikan panasnya yang sangat panas sehingga membawa kematian bagi segala kehidupan di bumi ini.
            Allah dalam pemahaman masyarakat Lamaholot selain dilihat sebagai Allah yang jauh dan Mahadahsyat, juga Allah itu begitu dekat dengan manusia. Kedekatan dan keakraban Allah dengan manusia itu terdapat dalam ungkapan nama Allah Tana Ekan. Tanah yang menjadi tempat pijakan manusia, tempat manusia melangsungkan hidupnya, tempat manusia mencari dan mengusahakan kehidupan adalah simbol Allah yang dekat dan selalu menyediakan segala sesuatu demi hidup manusia. Manusia menjadi begitu dekat dengan Allah dan dapat berkomunikasi denganNya lewat memelihara alam dan lingkunganNya. Oleh karena itu, alam sangat dihormati oleh mereka. Mereka menganggap bahwa alam dengan segala isinya merupakan pengejawantaan wujud tertinggi. Mungkin secara kritis kita mengatakan bahwa pemahaman masyarakat Lamaholot itu jatuh pada pantheisme (paham yang mengatakan bahwa segala sesuatu adalah Tuhan).
            Lera Wulan Tana Ekan telah menjadi simbol dari pencipta dan penyelenggara kehidupan, kekuatan terbesar, dan terdahsyat. Lamaholot berkeyakinan bahwa Lera Wulan Tana Ekan berada dengan sendirinya dan tak berkesudahan. Keyakinan ini nampak dalam ungkapan: Bego naen puken take-weli ekan miten pai. Bego rupan tala ladon, Lera gere (munculnya tak bersumber, dari alam gelap, munculnya bagai cahaya bintang, matahari terbit). [11]

3.4 Sifat-Sifat Lera Wulan Tana Ekan
Setiap aktivitas orang-orang Lamaholot senantiasa terpaut dengan sifat-sifat Tuhan atau Lera Wulan Tana Ekan. Adapun sifat-sifat Tuhan dalam nuansa ke-Lamaholotan itu antara lain sebagai berikut:
a) Ehan Tou (Tuhan Maha Esa)
Orang Lamaholot memahami Lera Wulan Tana Ekan sebagai Mahapencipta satu-satunya. Dia yang Maha Esa telah menciptakan alam semesta termasuk manusia. Manusia diciptakan oleh Dia yang Maha Esa dan diutus oleh-Nya untuk memanfaatkan dan merawat alam semesta. Oleh karena itu, sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih kepada yang Maha Esa itu, manusia tidak diperkenankan menyembah yang lain selain kepada yang Maha Esa itu.
Hanya Dialah yang patut disembah oleh karena keEsaan, kebesaran dan keagunganNya (kaka belen ama yoga atau kaka belen ama blolan). Hanya namaNyalah yang patut dimuliakan (Lera Wulan narane poton pana, Tana Ekan makene sogan gawe). Manusia harus menjunjung tinggi kebesaranNya dan merendahkan diri di hadapanNya (hunge baat-tonga blolo koon Lera Wulan Tana Ekan. Lugu rere-maan onem sare-moon Lera Wulan Tana Ekan).



b) One Naen Waibanu Matik Naen Selan Tapo (Tuhan Mahakasih)
Orang Lamaholot sadar dan tahu bahwa Tuhan telah menyerahkan seluruh alam ciptaan-Nya, bumi dan segala isinya, kepada manusia untuk dikelola dan dimanfaatkan untuk kelangsungan hidup manusia. Betapa besar belas kasih Tuhan kepada manusia.
Atas dasar sifat Mahakasih itu,  manusia selalu mengadakan hubungan dengan Lera Wulan Tana Ekan untuk memohon keselamatan, kesejukan dan kedamaian. Permohonan ini patut dialamatkan kepada-Nya sebab Lera Wulan Tana Ekan adalah sumber kesejukan, keselamatan dan kedamaian (gelete, gluor-gelete pelumut-gelete owa). Dialah tempat manusia memperoleh kesehatan yang baik, hasil kerja yang baik, kesejahteraan dan kebahagiaan.
Lera Wulan Tana Ekan menjadi tempat manusia mencari perlindungan (liko lapak) karena Dialah satu-satunya pelindung agung bagi manusia dan seluruh alam (bliko ina, blapak ama). Pada Dialah manusia mengharapkan agar segala bencana dan malapetaka, baik berasal dari alam maupun karena ulah manusia dan tipu daya setan dapat di jauhkan.
Lera Wulan-Tana Ekan juga menjadi tempat manusia menyampaikan keluh kesahnya (prudut proin). Segala suka dan duka serta semua kebutuhan hidup manusia di sampaikan kepadaNya agar Ia menurunkan pertolongan. Dalam Dia dan bersama Dia, segala kesulitan bisa diatasi.
            c) Hube Naen, Galat Kae (Tuhan Yang Mahakuasa)
            Hidup dan mati manusia berada di tangan Tuhan. Kapan, di mana dan bagaimana kematian mendatangi seseorang, hanya Tuhanlah yang tahu dan hanya Dialah yang mengaturnya. Dia menjadi awal dan akhir dari kehidupan seorang manusia.
            Atas dasar kepercayaan bahwa karena Tuhan yang memberi hidup, maka ketika seseorang meninggal, orang-orang Lamaholot mengatakan Lera Wulan guti apan atau Lera Wulan mayaro (Tuhan mengambilnya kembali atau Tuhan memanggilnya kembali).
            d) Noon Tilun Noon Matan (Tuhan Mahatahu)
            Tuhan mengetahui pikiran, perkataan dan perbuatan manusia. Ada dua konsekuensi dari kemahatahuan Tuhan ini; pertama, Dia akan memberikan ganjaran atau pembalasan atas perbuatan baik manusia. Manusia yang berbuat sesuai dengan kehendak Tuhan akan memperoleh rahmat dariNya. Kedua, atas perbuatan tidak baik, Tuhan akan memberikan hukuman atau kutukan yang langsung dialami manusia dalam hidupnya dan di akhirat nanti. Rahmat atau anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia yang baik hidupnya nampak dalam hal memperoleh penghasilan yang baik-murah rezeki, kesehatan yang baik, umur yang panjang, keturunan yang berhasil, dan lain sebagainya. Sedangkan hukuman atau kutukan dari Tuhan nampak dalam hal-hal seperti; tidak memperoleh penghasilan yang baik, sakit, tidak dikaruniakan keturunan, ditimpa bencana alam, serangan hama, kematian yang tidak wajar, dan lain sebagainya.[12]

IV. PEMAHAMAN ORANG LAMAHOLOT MENGENAI LERA WULAN TANA EKAN

 4.1 Kepercayaan Masyarakat Lamaholot Zaman Dahulu
            Pada zaman dahulu masyarakat Lamaholot sudah meyakini dan percaya akan adanya Allah, tetapi mereka tidak sanggup mengungkapkan adanya Allah itu. Mereka menyebut nama wujud tertinggi itu dengan simbol Lera Wulan Tana Ekan. Tanda kehadiran Wujud Tertinggi itu mereka imani lewat Nuba Nara[13]. Nuba Nara ini sebagai perantara antara Allah dan manusia.
            Nuba Nara adalah satu onggokan batu-batu kecil, sebesar kepalan tangan yang bundar dan licin yang terletak di depan korke[14], dan berada di tengah-tengah pelataran tempat orang menari dan membawakan persembahan[15]. Nuba Nara ini sebagai tempat tinggal Lera Wulan Tana Ekan. Batu Nuba Nara serta tempat di sekitarnya harus bersih dari rerumputan. Orang tidak boleh menghinanya dengan perkataan dan perbuatan, serta tidak boleh menginjak-injaknya. Semua anggota suku, dari yang tertua sampai yang terkecil, harus hadir di depan batu Nuba Nara pada perayaan pesta-pesta Korke. Pada setiap pesta yang lain pun, batu-batu Nuba Nara harus mendapat bagiannya karena diyakini bahwa batu tersebut seperti orang tua yang melahirkan kita.
            Jadi Nuba Nara menurut pandangan orang Lamaholot dulu yang belum mengenal gereja adalah sebagai tempat suci di mana mereka dapat menyampaikan permohonan, misalnya; mendatangkan hujan, supaya panenan berhasil, terhindar dari gangguan hidup, terhindar dari penyakit dan lain-lain yang berkaitan dengan membangun rumah, terhindar dari bencana alam yang merugikan hidup mereka dan menang dari perang. Namun selain itu juga berupa ucapan syukur seperti ucapan syukur atas keberhasilan panenan, sembuh dari sakit, menang dari perang serta syukur atas terselenggaranya pesta adat, dan lain-lain. Dalam setiap doa yang diucapkan para tua adat dan masyarakat lain, doa-doa yang di dalamnya terdapat kalimat Lera Wulan Tana Ekan selalu didendangkan seperti berikut: Lera Wualan Tana Ekan nein kame kuat kemuha, ti kame akena goka pewaletem pi raran ni. Naku jaga gerihan kame ti kame akena berarakem, noon nein kame rezeki limpah de aya, ti kame bisa moripem pi tana lolon ni. (Lera Wulan Tana Ekan berikan kami kekuatan, supaya kami tidak jatuh dalam pencobaan dalam hidup ini. Tapi, lindungilah kami selalu agar kami tidak sakit, dan berikanlah kami selalu rezeki yang limpah, agar kami bisa hidup di dunia ini).

4.2 Kepercayaan Masyarakat Lamaholot Setelah Masuknya Agama Katolik
            Kekristenan yang berkembang pada masyarakat Lamaholot ini sesungguhnya ditenun dari suatu proses sejarah yang panjang dalam bingkai waktu dan kompleksitas budaya umat dan masyarakat. Tapi penyebaran itu tidaklah gampang menghadapi masyarakat Lamaholot yang sudah mendarah daging dengan adat yang dihidupi mereka. Sejalan dengan pergantian waktu, para misionaris memperkenalkan Agama Katolik lewat katekese-katekese, dan mulai membaptis masyarakat Lamaholot untuk masuk Katolik. Dalam pengajaran, para misionaris tidak menolak kepercayaan Allah lewat ungkapan Lera Wulan Tana Ekan. Malahan mereka mendukung kepercayaan itu dengan mengatakan bahwa Allah itu Maha tinggi seperti “Lera Wulan dan sekarang Allah juga ada di bumi dekat dengan kita seperti “Tana Ekan”. Pengalaman di hadapan Nuba Nara dan berbagai ritus yang dipraktekkan oleh masyarakat Lamaholot ini merupakan tolak pijak untuk berkiblat kepada Allah. Allah memberi terang ke bawah bumi ini supaya memperoleh kehidupan. Orang-orang mulai sadar bahwa wujud tertinggi yang mereka imani sama dengan Allah dalam kepercayaan Agama Katolik. Akhirnya mereka perlahan-lahan mulai menerima Agama Katolik sebagai agama yang dianut mereka hingga saat ini, tanpa menghilangkan kepercayaan dan adat yang telah dianut sejak dahulu itu.

            Ungkapan Lera Wulan Tana Ekan selain digunakan dalam bahasa adat, digunakan juga dalam agama, di sekolah, dalam berpidato, dan dalam upacara-upacara formal lainnya. Di samping mereka menghormati adat, mereka juga menghormati agama. Kami sangat yakin dan percaya bahwa ungkapan ini tidak akan punah, melainkan tetap dikumandangkan oleh generasi-generasi penerus di kemudian hari.

V. PENUTUP
            Dari keseluruhan uraian kami di atas dapatlah kita melihatnya bagaimana pemahaman akan eksistensi Allah dalam ungkapan Lera Wulan Tana Ekan menurut masyarakat Lamaholot. Masyarakat Lamaholot sebelum mengenal Agama Katolik, mereka telah mempunyai pemahaman tentang siapakah Allah itu? Allah bagi mereka begitu Maha tinggi, agung, dan luhur (Lera Wulan) tetapi sekaligus dekat (Tana Ekan) tidak dapat dibahasakan dengan nama yang sebenarnya selain dengan “simbol”. Akan tetapi esensi dari pengalaman itu menunjukkan eksistensi Allah yang memberikan hidup bagi mereka. Bagi masyarakat Lamaholot hidup itu dapat berjalan kalau Allah yang adalah wujud tertinggi itu tetap menyertai kita. Segala dimensi kehidupan mereka ada dalam tangan dan berhubungan langsung dengan Sang hidup yang mereka namakan Lera Wulan Tana Ekan. Semoga Lera Wulan Tana Ekan selalu memberkati kami berenam ini sebagai generasi penerus bangsa dan Lewotana[16] Lamaholot tercinta ini.










DAFTAR PUSTAKA

            Arndt, Paul. Agama Asli Di Kepulauan Solor. Maumere: Puslit Candradity, 2009.

Watun, Lambert Doni. Majalah Flobamora. Pematangsiantar: ([tanpa penerbit]),    1996.

Kean, Rofinus Nara, dkk. Selayang Pandang Budaya Lamaholot. Larantuka: Offcet CV. Jori, 2008.



[1]  Lambert Doni Watun. Majalah Flobamora (Pematangsiantar: ([tanpa penerbit]), 1996), hlm.16.

[2] Lamaholot berasal dari dua kata, yakni Lama dan Holot. Lama artinya kasta dan Holot berkembang dari kata Zelot yang berarti kuningan emas. Jadi Lamaholot berarti kasta emas. Kasta yang tinggi dan tidak bisa dipandang rendah.
                [3] Rofinus Nara Kean, dkk, Selayang Pandang Budaya Lamaholot (Larantuka: Offcet CV. Jovi
Stender, 2008), hlm. 9.

[4] Lambert Doni Watun Majalah..., hlm.17.

[5] Lambert Doni Watun, Majalah..., hlm.17.

                [6] Rofinus Nara Kean, dkk, Selayang..., hlm. 10-11.

[7] Lambert Doni Watun, Majalah..., hlm.17.

[8] Lambert Doni Watun, Majalah..., hlm.17.

                [9] Rofinus Nara Kean, dkk, Selayang..., hlm.11.

[10] Lambert Doni Watun, Majalah..., hlm.18-19.


                [11]  Rofinus Nara Kean, dkk, Selayang..., hlm. 12-15.

                [12] Rofinus Nara Kean, dkk, Selayang..., hlm. 12-15.

                [13] Secara etimologis Nuba Nara berasal dari kata Tubak dan Tarak. Tubak artinya menikam atau jatuh tertikam dari atas, dan Tarak artinya tertikam, mengarah ke tempat datangnya tikaman atau dari mana datangnya kejatuhan. Dari sini dapat dimengerti bahwa jurusan datangnya tikaman adalah langit, surga; sedangkan tempat tikaman atau tujuan tikaman adalah bumi/dunia. Nuba adalah surga yang menjatuhkan diri, turun ke dalam dunia; Nara adalah surga yang tinggal tertanam dalam dunia dan menjadi satu dengan dunia. Nuba Nara juga mengungkapkan keterpisahan surga dan bumi.hal ini terbaca dalam koda atau ungkapan adat (sabda): Lera Wulan gikat teti lodo hau,Tana Ekan tama lali gere haka. Taan one tou kirin ehan, puin taan ro uin na, gahan taan ro kahana (surga turun dari atas, bumi naik dari bawah, menjadi satu hati, satu kata, satu ikat, satu berkas, tak terurai, tak terpisah-pisahkan.)

                [14] Korke berarti rumah adat masyarakat Lamaholot.

                [15] Paul Arndt, Agama Asli Di Kepulauan Solor (Maumere: Puslit Candradity,2009), hlm.170.
                [16] Lewotana terdiri dari dua kata, yakni; Lewo yang berarti “kampung”, dan Tana yang berarti “tanah atau halaman”. Jadi Lewotana berarti kampung halaman.